Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

SUSAHNYA MEMAHAMI WANITA

SUSAHNYA
MEMAHAMI
WANITA



Suatu malam, ketika sedang berjalan sepanjang
pelabuhan Ketapang Banyuwangi Jawa Timur, seorang
pria menemukan lampu tua yang diletakkan
di atas batu. 



Ketika ia mengambil dan menggosoknya, seorang
Jin mendadak muncul.

Baik, cukup sudah! bentak Jin itu.
Ini keempat kalinya dalam bulan ini orang menggangguku!
Aku begitu marah sampai aku hanya akan memberimu satu
permintaan bukannya tiga! Jadi ayolah, ayo! Katakan apa yang
kau inginkan, dan jangan membuang waktuku seharian!.”

Orang itu berpikir cepat, kemudian berkata,
Yah, aku selalu bermimpi pergi ke Bali, tetapi aku takut terbang
dan aku cenderung mabuk laut di atas kapal. Bagaimana kalau
kau buatkan aku jembatan ke Bali? Dengan begitu, aku bisa naik
mobil ke sana.” 

Jin itu tertawa.
Jembatan ke Bali?! Kau pasti bercanda? Bagaimana aku bisa
mendapat penyangga yang sampai ke dasar Laut? Itu
membutuhkan terlalu banyak baja, dan sangat terlalu banyak
beton! itu sama sekali tidak bisa dilakukan! Pikirkan permintaan
lain!” 

Kecewa, pria itu berusaha keras untuk memikirkan
permintaan lain.
Akhirnya ia berkata,
Baiklah, aku punya keinginan lain. Semua wanita dalam
hidupku berkata aku tidak peka. Aku berusaha dan berusaha
untuk menyenangkan mereka, tetapi tidak ada yang berhasil.
Aku tidak tahu di mana kesalahanku. Satu permintaanku adalah
untuk mengerti wanita... tahu bagaimana sebenarnya perasaan
mereka ketika mereka membisu padaku... tahu mengapa
mereka menangis ... tahu apa yang mereka inginkan ketika
mereka tidak memberitahu aku apa yang sebenarnya mereka
inginkan... aku ingin tahu apa yang membuat mereka benar-benar
bahagia.

Sunyi sejenak, kemudian Jin itu berkata, Kau mau jembatan itu
berjalur dua atau empat?
………………………………………………………......................
 


MORAL CERITA:
benarkah wanita begitu rumit untuk dipahami?
 ==========================================================

"2 kewajiban seorang Anak"

"2 kewajiban seorang Anak"


Sekarang..... aku sudah dewasa, aku sudah menjadi seorang papa bagi 2 anakku (Veda Bezaleel & Hebert Bezaleel), aku masih ingat saat aku masih kanak², seorang anak memiliki 2 kewajiban pada orang tua:

1. Mengasihi orang tua.

Sebagai seorang anak kita berkewajiban untuk mengasihi orang tua kita yang sudah membesarkan kita (Jawa=gulowenthah). Sebagai anak wajib mengasihi orang tua kita sampai akhir hayat kita. Dalam hukum kasih yang ke-2 dikatakan "Kasihilah Orang tuamu supaya panjang umurmu di bumi ini". Jadi sangatlah jelas bahwa kita wajib mengasihi kedua orang tua kita apapun keadaanya kita, ataupun apapun keadaan orang tua kita. Meskipun kita sudah berumah tangga sekalipun tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi orang tua.


2. Patuh pada Orang Tua

Kewajiban seorang anak yang ke-2 adalah patuh pada orang tua. Anak adalah titipan dari Tuhan kepada orang tua. Siapakah yang meberi corak/warna dalam kehidupan kita, semua tidak lepas dari orang tua kita. Sebagai orang tua,seorang Ayah dan Ibu memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap anak² yang sudah Tuhan percayakan untuk mereka didik. Kepada siapa mereka (red=orang tua) bertanggung jawab? Tentu kepada Tuhan. Sebagai seorang anak harus sadar akan tanggung jawab orang tua yang begitu besarnya sehingga seorang anak berkewajiban patuh pada orang tua.
Namun ada kewajiban yang hilang diantara 2 kewajiban tersebut diatas ketika seorang anak sudah menjdi "dewasa". Seorang anak yang sudah menjadi dewasa, akan memiliki tanggung jawab sendiri kepada Tuhan tidak lagi mereka bertangung jawab kepada orang tua mereka. Tentunya hal ini harus saling dimengerti baik oleh orang tua maupun anak yang sudah menginjak dewasa.
Hal tersebut diatas membuat sang anak kehilangan 1 diantara 2 kewajiban yaitu "patuh pada orang tua". Seorang anak yang sudah menjadi manusia dewasa tidak lagi harus patuh pada orang tua. Karena mereka memiliki tanggung jawab kepada Tuhan secara langsung. Namun untuk kewajiban yang no. 1 tetap harus dilakukan.

'semoga tulisan ini dapat bermanfaat'


Aku ingin mempersembahkan tulisanku ini pada orang tuaku yang telah membesarkan aku. Kepada Ibuku yang sudah mengandungku selama 9 bulan 10 hari, merawatku dalam perutnya, yang telah memberi air susunya. Buat Bapakku (Alm) yang telah bersusah payah mencari nafkah guna membesarkanku. Bapak.... maafkan aku belum bisa membalas budi baik bapak, bapak sudah pulang ke rumah Bapa di Sorga.
Something buat ibu tercinta: maafkan aku bila sekarang aku tudak patuh lagi, jangan kuatir... aku tetap mengasihimu sepanjang hidupku.... seperti Tuhan sudah mengajarkan "KASIH" kepadaku.

Tempayan Retak

Tempayan Retak 

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar. Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak. Sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yg retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.


Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak-sempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.


Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."


"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"


"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi." kata tempayan itu.


Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak. Dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."


Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan. Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Dan itu membuatnya sedikit terhibur.


Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan si sisimu, tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."


PESAN MORAL :


Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri.


Kita semua adalah tempayan retak.


Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya.


Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma.


Jangan takut akan kekuranganmu.


Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.


Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.